Aku kembali pada akhir bulan dan tiba di sana sehari sebelum ulang tahun Martin. Aku tidak membawa apa-apa dari kampung halamanku. Karena memang tak ada yang pantas untuk kujadikan oleh-oleh apalagi hadiah ulang tahun. Desaku bukan sentra kerajinan seperti Solo atau Yogyakarta. Memang ada kerajinan wayang, tapi tempatnya agak jauh dari desaku. Ketika di sana aku juga berfikir bahwa wayang mungkin bukan kado yang bagus. Baru ketika tiba di sini aku sedikit menyesal. Mungkin akan bagus jika aku meminta pengrajin membuatkan wayang bentuk mereka berempat dari wayang kulit. Tapi,ya sudahlah, ulang tahun Martin tinggal besok, aku harus segera memutuskan apa yang akan kuberikan padanya.
Dan di sinilah aku sekarang, di antara orang yang berkesibukan berbeda. Di pasar antic London yang terkenal itu, Stallholders. Aku berusaha mencari benda paling menarik yang bisa kuberikan untuk Martin. Ada lampu-lampu antik yang kurasa justru akan membuatnya mengerutkan dahi. Seorang pedagang menawariku cincin dengan mutiara imitasi yang besar. Aku jelas menggeleng untuk ini. Kurasa aku di tempat yang salah. Martin bukan penyuka barang-barang antik. Tapi apakah aku harus memberikannya selusin tiger balm yang selalu ia pakai sebelum konser? Ah, bukan ide bagus. Tapi setidaknya aku mendapat gagasan baru dari itu. Ya, aku akan memberikannya sesuatu yang bisa dia pakai untuk membuatnya lebih menarik di atas panggung. Bukan jam tangan pasti, dia sudah punya stok melebihi batas. Gelang? Well, dia tidak memakai gelang di era Mylo Xyloto ini.
Dering handphone tiba-tiba terdengar saat aku sedang bingung ke mana lagi mencari kado.
“Hi.” terdengar suara dari seberang. Sangat merdu seperti saat dia bernyanyi. Dan entah kenapa aku merasa suaranya lebih dekat, tidak seperti saat aku masih di Indonesia.
“Hi, boy! Aku sudah kembali. Ada kabar baru darimu?”
“Welcome back, then! Sayangnya aku justru akan pamit.”
“Hah? Kau mau ke mana?” dan besok? ulang tahunmu, Martin?
When I’m 40, too old to be a rock star, I plan to go back to college to study classical music
– Chris MartinAku memang tak berhubungan banyak dengan Martin selagi di sini. Aku tidak sedih, justru senang karena dia mengerti. Di pikirannya aku sedang ingin menikmati liburan di sini dengan nyaman. Padahal sesungguhnya, aku tidak mau kerinduan ini muncul terlalu dini. Tapi aku tidak mengatakannya karena dia pasti akan tersipu tanpa kata-kata. Aku tak sanggup membayangkan itu.
Kami berbicara sebentar saat mereka merilis video Charlie Brown, lagu yang telah lama menghinoptisku. Dia bertanya dengan tak sabar. Dan hanya kujawab dengan ‘bagus. Hanya kurang luar biasa.’ Lalu aku bisa mendengar dengusan nafas, pasti dia tersenyum atau lebih tepatnya tersipu. Sebenarnya aku ingin mengatakan kepadanya bahwa ada bagian-bagian yang sangat kusukai dari video itu. Lightning-nya luar biasa dengan Xylobands sebagai protagonis yang amat hebat. Juga Martin dan ketiga temannya yang terlihat lebih tampan dari biasanya. Namun kurasa itu akan jadi sangat lama, dan rinduku pasti akan segera muncul. Aku tak mau itu.
Percakapan ditutup dengan peringatan dari Martin agar aku menonton mereka di Grammy. Tentu saja aku tak lupa. Princess of China akan live untuk pertama kalinya. Dan ada dua agenda besar di bulan ini, Grammy dan Brit! Semoga kalian memenangkan semuanya boy!
Jadi di sinilah aku sekarang. Grammy live di sini pukul 8 pagi. Bukan waktu yang baik karena biasanya ini jam-jam sibuk. Tapi aku sekarang menganggur jadi ini justru menyenangkan. Orang tuaku sudah pergi ke ladang dari tadi. Aku ditemani kucingku yang sudah berabak 3, dia sedang menyusui anaknya di sofa.
Aku harus menunggu agak lama. Dan penampilan Rihanna membuatku sedikit tersenyum. Berarti sebentar lagi Martin. Oh, ya sebelumnya Grammy sudah mengumumkan pemenang untuk Best Rock Performance-nya, bukan band-nya Martin. Tak apalah. Dan lihatlah apa yang terjadi di panggung sekarang? Rihanna sudah selesai dengan lagunya. Dan sekarang aku bisa mendengar suara Martin dan petikan gitarnya? Apa? Di mana lainnya? Oh, tidak,Princess of China live akustik ternyata. Sangat manis atau cute tepatnya, kau memang jenius Martin. Setelah itu selesai, mereka memainkan Charlie Brown. Senymku makin lebar, cahaya warna-warni dari penonton itu… mereka semua memakai Xylobands. Aku jadi teringat X-Factor dulu itu. Saat pertama kali aku melihat gelang itu bekerja.
Aku menangis. Aku mengakuinya, entah kenapa rindu yang sedari tadi kutahan justru meledak kali ini. Aku dan mereka kini hanya dipisahkan oleh kaca beberapa inchi, tapi itu jaraknya sudah setengah planet. Aku benar-benar merasa jauh sekarang. Seharusnya aku tak terlalu menutup diri pada mereka seperti ini.
Hari ini aku pulang. Tapi entah mengapa rasanya justru seperti akan merantau. 3 tahun aku di Negara maju ini dan belum seklipun pulang. Biasanya jika liburan, aku justru bekerja. Biaya hidup di sini sangat tinggi. Dan sekarang akhirnya aku bias pulang. Seperti apa rumahku sekarang? Sudah beranakkah sapi yang dulu dibeli Dad? Dan apakah kucingku juga sudah beranak? Ah, sudah 3 tahun ini pasti sudah.
Bandara Heathrow sudah ramai sperti biasa. Bahkan jika kau mau, kau bias menemukan 10 selebriti untuk diajak foto bersama. Namun aku tak mau, aku hanya ingin cepat-cepat masuk pesawat. Lagian, berteman dengan Martin membuatku tak norak lagi saat harus berhadapan dengan selebriti.
Aku hampir saja mematikan ponsel sebelum sebuah pesan mendadak masuk. Dari Martin dan ia menulis besar-besar “SELAMAT JALAN DAN JANGAN LUPAKAN KAMI”. Dia sedang marah atau apa? Aku tak membalas dan cepat-cepat mematikannya. Segera kuserahkan pasporku ke petugas bandara. Kulempar senyum ke seluruh isi bandara. Aku tahu mereka tidak peduli. Tapi biarlah. Orang Timur terkenal ramah, bukan?
Akan ada perjalanan panjang dan tanpa suara Martin. Well, dia bukan udara yang harus selalu kuhirup. Kupandangi sebentar ponselku, ingin kuhidupkan lagi untuk membalas pesannya. Tapi, ah, tidak usah. Paling dia hanya membalas sebuah smiley saja.
Para penumpang sudah mulai masuk pesawat. Aku melemparkan senyum sekali lagi. Kali ini ada dari beberapa yang membalasnya. Dan beberapa saar setelahnya pesawat mulai terbang. Selamat tinggal, London! Rumah keduaku selama hampir 3 tahun ini. Aku akan kembali, tapi tak secepatnya.
Ternyata ide tak membalas pesan Martin adalah sebuah bencana. Begitu kuhidupkan ponsel kembali setelah akhirnya aku menghirup udara di Indonesia. Ia ternyata telah mengirimkan banyak pesan, isinya sama pula : HEY, KAU SUDAH TERBANG? KENAPA TAK KAU BALAS? KAU INI KENAPA? Astaga, apa dia tak tidur semalaman untuk mengirim ini semua? Dan kenapa harus sebanyak ini? Bukannya dia tahu jarak London-Indonesia itu berapa. Sungguh bukan sambutan yang baik. Belum lagi cuaca hari ini. Begitu sampai di bandara hujan langsung turun. Aku tahun di sini sedang musim penghujan sekarang. Tapi bisakah ramah sedikit saat aku dating, walau aku bukan siapa-siapa?
Aku terpaksa menunggu hingga reda. Saat itu pulalah ponselku berdering. Dari Martin. Kutengok jam di ponselku, ini baru pukul 14.00. berarti di sana baru pukul 07.00. Apa kau benar-benar tak tidur, Martin?
“Hey!” katanya, aku menangkap nada gembira di sana. Dia pasti sedang tersenyum. Dan saat seperti ini mata kanannya pasti menyipit. Perlahan kejengkelanku karena pesan-pesannya tadi reda. Bagaimana aku bisa membencimu, hah?
Aku kelaparan. Sungguh lapar yang luar biasa. Baru kali ini aku merasa kelaparan yang dahsyat. Pasti karena terlambat makan dua hari ini. Aku terlalu asyik bermain dengan Apple dan Moses. Ketika Gwyn menyuruhku makan, aku pasti menolak. Sekarang aku baru merasakan akibatnya. Dan astaga, ini sangat menyiksa. Aku harap ini bukan maag akut.
Kuputuskan untuk membuat telur dadar. Dan karena aku sangat kelaparan, aku akan membuat dua. Dan akan kumakan sekaligus. Tiba-tiba telingaku mendengar suara dering ponsel. Astaga, siapa yang menelepon saat aku hamper mati kelaparan begini? Mungkin cacing-cacing di perut yang sudah tak sanggup lagi menahan. Jadi mereka meneleponku untuk segera memberinya sesuatu. Tanpa melihat nama di layar, aku langsung mengangkatnya.
“Di sini Sri Mulyati. Ada yang bisa saya bantu?”
Tidak ada suara yang menyahut dari seberang sana. Namun tak berselang lama, akhirnya ada suara juga. Tapi kenapa sebuah tawa? Aku menjauhkan ponselku dari telinga, melihat siapa nama penelepon ini.
“MARTIN!!!! Apa maumu, hah?”
Tawanya mulai mereda.
“Tunggu, pertama kau menyebutkan nama lengkapmu. Sekarang marah-marah. Kau ini kenapa?
“Pertama, aku tak sempat melihat namamu di layar. Dan kau tahu kenapa, Sir Martin? Karena aku sedang memasak telur. Aku kelaparan dan….” Kata-kataku terhenti begitu hidungku mencium sesuatu. Kenapa bau sangit? Astaga! TELURKU!!!! Secepatnya aku berlari ke dapur. Dan memang, telurku sudah hangus. Aku harus meminta cacing-cacing di perut ini untuk bersabar lagi.
“Jadi?” suara Martin kembali terdengar. Sangat polos. Dan itu membuatku kesal.
“Tidak ada jadi. Kedua telurku hangus dan aku harus menahan lapar lagi.”
“Kalau begitu, makanlah di luar. Aku akan mentraktirmu.”
“Martin, aku tidak biasa makan dengan selebriti. Apalagi vegetarian sepertimu!”
“Loh? Bukankah kau pernah bilang juga ingin menjadi vegetarian? Kau bias sekalian berlatih.”
Kali ini aku tak mendengarkan Charlie Brown. Bukan karena sudah bosan, tapi aku lebih membutuhkan Fix You sekarang ini. When you try your best but you don’t succeed. When you get what you want but not what you need. Aku tak bias menahan cairan bening yang ada di mataku ini. Perlahan menetes lalu kurasa semakin deras. Seperti yang sudah kuduga. Aku tidak juga berhasil. Di kesempatan keempat ini aku gagal juga.
Fix You masih mengalun. Lights will guide you home. And ignite your bones. And I will try…. Tiba-tiba alunan Fix You berganti dengan dering ponselku. Aku tahu ini Martin. Terima kasih telah peduli, boy!
“Bagaimana? Apa kau berhasil akli ini?” katanya segera
Well, aku gagal. Tidak, kalimat yang buruk. Ternyata, aku belum bias. Kalimat yang menyedihkan. Aku tidak berhasil. Aku belum beruntung. Sial, bisakah aku tidak mengeluarkan kata-kata menyedihkan?
“Baiklah, aku akan segera ke sana.” katanya cepat-cepat mengetahui aku belum juga menjawab. “ Dan satu lagi, jangan bukakan pagar. Aku akan melompatinya saja.”
Yang mengejutkan adalah aku tak bereaksi apa-apa terhadap pernyataan Martin tadi. Sudah parahkah frustasiku kali ini? Aku menunggu Martin di beranda. Dan Fix You kembali mengalun. When you feel so tired but you can’t sleep. Stuck in reverse. Kembali cairan bening keluar dari mataku. Lebih deras dari tadi. Kudengar deru mobli dari arah depan. Rupanya Martin lebih cepat dari dugaanku. Dia memarkir mobilnya di depan pagar. Dan dia benar-benar melompati pagar. Aku bias sedikit tersenyum sekarang. Kejadian tadi mengingatkanku pada salah satu adegan video klip The Scientist milik band-nya. Bedanya dulu dia melompat mundur dan sekarang ada gitar di tangannya. Dia langsung berdiri di sebelahku dan menyapa dengan satu senyuman tulus. Dan maaf Martin aku mungkin sudah terlalu hancur untuk membalas itu.
“Aku bertaruh kau sudah mendengarkan Fix You.”
Aku melepas headset dan menatapnya sebentar. Kembali dia tersenyum.
“Aku baru saja mendengarkannya. Lagu ini juga sudah kuputar sebelum pengumuman.”
“Itu dia kesalahanmu.”
Aku menyipitkan mata dan Martin bersiap member i penjelasan.
“Kau harusnya tak mendengarkan itu sebelumnya. Itu lagu kekalahan.”
“Ya, lagu kekalahan yang indah.” aku tersenyum dan mataku menerawang jauh.
“Dengar, kau mungkin belum berhasil…”
“Aku kalah. Aku sudah gagal, Martin. Itulah kata yang paling tepat.” aku tak percaya baru saja melontarkan kata-kata menyedihkan yang sudah kuhindari sejak awal.
“Apa? Bagaimana kau bias seputus asa ini? Berapa kali kau gagal? Satu? Dua?”
“Sudah empat.”
“Baik, kadang kita harus sampai pada tahap kelima.”
“Atau mungkin berhenti sebelum angka lima!”
“Hey, sejak kapan kau jadi pesimis begini? Apa ini karena lagu-laguku?”
“Tentu tidak. Lagu-lagumu justru penyelamat yang luar biasa. Aku memang harus berhenti sebelum angka lima. Dan memulainya lagi, tidak di sini pasti. Mungkin di kampong halaman.” aku tersenyum dan beralaih menatapnya. Sungguh tak kusangka keterkejutannya lebih besar dari perkiraanku.
“Tidak! Negara ini tidak hanya punya NME. Mungkin itu yang terbesar, tapi tidak diterima di sana bukan berarti kau tidak terhormat.”
“Bukan itu, Martin. Aku juga rindu kampong halamanku. Aku rindu bercerita dengan teman-teman.”
“Tunggu, kau piker aku apa? Apa aku bukan seorang teman yang pantas kau ajak bercerita?” ada nada tidak terima dari suaranya.
“Kau tentu teman yang paling baik. Tapi yang kurindukan adalah bercerita tentang dirimu, bandmu, segalanya. Tak mungkin aku menceritakan dirimu sendiri padamu kan?”
“Kalau begitu, kau bias bercerita dengan Coldplayer, kan?”
“Itu dia. Aku merasa tak pantas di antara mereka. Mereka sudah menyukai kalian sejak lama. Sedang aku baru benar-benar mengenal kalian di album keempat.” kembali aku menatap Martin. Tapi sepertinya dia tidak ingin cepat-cepat berkata. Matanya menerawang jauh entah ke mana. Ia lalu mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu. Sedang mengirim pesan mungkin.
“Duduklah.” dia menunjuk kursi yang ada di beranda dan mendahului duduk. Aku mengikuti dan duduk di kursi sebelahnya. Dia mengambil gitar dan… konser gratis untukku. Harusnya aku kegirangan tapi rasa frustasi masih besar. Aku hanya merasa sedikit terhibur.
“Sudahlah. Aku bias mendengarkan Fix You dari IPodku sendiri. Kau tak perlu repot-repot akustikan di sini.”
“Kau piker aku akan memainkan Fix You?”
Aku menyipitkan mata dan dia tersenyum jahil. Sial, di saat seperti ini Martin bias membuatku amat gemas.
Aku sudah mendengarkannya. Ya, lagu yang akan dirilis band-nya Martin sebagai single ketiga. Dan tebak saja, aku sudah jatuh cinta pada lagu itu. Memang, aku harus mendengarkannya sampai tiga kali untuk benar-benar merasakan bagaimana luar biasanya lagu ini. Ini dia lagu terbaik yang pernah mereka ciptakan. Setiap bagiannya benar-benar luar biasa. Liriknya, petikan gitar, ketukan drum, dan suara Martin yang, haruskah kujelaskan bahwa dia memiliki vocal yang lebih dari prima? Intinya, aku sedang menjalin hubungan yang sangat intim dengan lagu ini.
Martin sudah memainkan lagu ini di rangkaian tour-nya rupanya. Well, sudah agak lama. Hanya aku dulu tak memperhatiakn karena lagu ini bukan lagu favoritku. Tapi sekarang, aku tak akan pernah melewatkan sedikitpun hal-hal yang terkait dengan lagu ini. Dan, ternyata mereka juga sudah merilis video live versionnya. Mengapa Martin tak bilang? Waktu lagu ini ditetapkan sebagai single ketiga saja dia bilang. Aku harus meneleponnya.
Aku memencet beberapa digit nomor dan menekan tombol hijau di ponselku. Sedikit lama aku harus menunggu. Ke mana kau, Martin? Tapi akhirnya, ini dia!
“Wow, adakah sesuatu yang darurat sampai kau meneleponku malam-malam begini.”
“Belum ada jam 8! Apa aku menganggumu?”
“Tidak, tidak, tidak. Masih sedikit lama hingga aku naik ke panggung. Ada sesuatu?”
“Jadi kalian sudah merilis video Charlie Brown yang live?”
“Dan kau baru mengetahuinya?” ada nada pembelaan diri di sana.
“Kenapa kau tak bilang?” kini giliran aku yang membela diri, sedikit gemas dengannya.
“Apakah koneksi internet di rumahmu mati? Atau….kau terlalu sibuk hingga tak sempat mencari berita tentang kami?”
Huuufft… terlalu sibuk?
“Dua hari ini aku memang sibuk dengan interviewku untuk NME. Kau tahu aku sedang berusaha agar aku diterima di sana. Ini percobaan yang keempat.” ada nada putus asa setelah itu. Karena aku tak yakin akan diterima. Tiga kali kesempatan aku gagal. Dan masih berharap beruntung di kesempatan keempat ini.
“Ya. Tapi kau tak bilang ada interview dua hari ini.”
“Pentingkah itu?”
“Setidaknya aku bias mendookanmu.” kembali ada sebuah nada pembelaan. Atau mungkin sebuah perhatian?
“Kau masih bisa mendoakanku. Pengumumannya masih besok.”
“Okay. Oh,ya. Aku berharap kau menonton X-Factor mala mini. Kami akan tampil malam ini dan ada sesuatu yang special. Memang bukan yang pertama kali. Tapi melihat kau sibuk dua hari ini, kau pasti belum melihatnya.”
Aku mengerutkan dahi.
“Okelah. Bye!”
Sesuatu yang special? Wow, mereka membuat kejutan lagi. Sejak album studio kelima mereka, banyak sekali kejutan yang mereka munculkan. Dari musik yang lebih segar, konsep graffiti yang mengagumkan, nama album yang jelas belum pernah kau dengar sebelumnya, hingga kostum gajah dan Martin yang mengendarai unicycle dan banyak hal lain yang kalau kuceritakan cerita ini jadi tidak ada akhirnya.
Aku segera menyalakan TV. Meski sudah tahu X-Factor baru akan mulai 30 menit lagi. Jadi kuputuskan mendengarkan Charlie Brown. Sudah kubilang, aku sedang jatuh cinta dengan lagu ini. Kurasa aku juga akan memutar lagu yang lain. Or let this song on my repeat. Entahlah, aku selalu ingin memutarnya kala lagu ini selesai.
Light a fire a fire a spark. Light a fire a flame in my heart. We’ll run wild. We’ll be glowing in the dark. Aku tak bisa untuk tidak menari. Mungkin aku sudah sehiperaktif Martin sekarang. Bodohlah, aku di dalam rumah. Tidak aka nada orang yang melihat.
All the highs all the lows. As the room a-spinning goes. We’ll run riot. We’ll be glowing dark. Aah, itu dia X-Factornya. Aku melepas headphone yang sedari tadi menempel di telinga. Saatnya menonton Martin. Pasti dia juga memainkan Charlie Brown.
Martin, Jonny, Guy, dan Will sudah di panggung. Martin memakai kaus biru lengan pendeknya. Ya, ya, otot-otot lengannya terlihat jelas. Dan seperti dugaanku, mereka memainkan Charlie Brown. Aku pun segera bersorak kegirangan bak anak kecil yang mendapat 3 lollipop. Tapi, astaga, pandanganku beralih pada sekumpulan cahaya warni-warni yang memancar kala mereka bermain. Kadang hidup kadang juga padam, mengikuti ritme lagu yang sedang dimainkan. Aku benar-benar kagum. Inikah hal spesial yang diberitahukan Martin tadi? Dan…itu jelas bukan bagian dari lightning mereka, sepertinya dari penonton. Bukan glow stick tapi.
Charlie Brown selesai, kini mereka memainkan Paradise. Cahaya warna-warni tadi masih memancar dari arah penonton. Dan tunggu, cahaya itu dihasilkan oleh gelang yang mereka pakai. Ya, kamera televisi baru saja menyorot kea rah mereka. Terlihat jelas mereka mengenakan gelang yang mengeluarkan cahaya. Benar-benar kejutan yang indah, boys!
Butterfly confetti mulai bertebaran. Bagian mereka sudah hamper selesai berarti. Saat mereka sudah menghilang dari panggung, teleponku berdiring. Aku harap ini kau, Martin. Kau harus jelaskan tentang gelang ajaib itu!
“Ya?” jawabku girang, padahal belum tentu itu Martin.
“Aku hanya disuruh Martin untuk memastikan apa kau menonton kami tadi.” sahut suara di seberang sana. Jelas bukan Martin. Tapi aku tahu siapa ini!
“JONNYPUFF!!!!!!!!!!!!!!!” teriakku girang. Ya, ini Jonny. Kekasih Martin sesungguhnya. Haha, kami, para fans, selalu berpendapat demikian.
“Astaga, kalian benar-benar melakukannya! Jonnypuff!” ada tawa riang di sana. Bukan hanya milik Jonny, mungkin yang lain juga ikut bergabung. Aku tersenyum riang.
“Katakan padanya, dia berhutang penjelasan tentang gelang itu. Atau kau mau mengambil alih tugasnya?”
“Yang jelas namanya Xylobands. Kau bisa mendapatkannya kalau kau juga punya selembar tiket. Selebihnya, Martin menyuruhku untuk bilang agar kau membaca interview-nya di internet.”
“Sial, ini pasti gara-gara aku terlambat mengetahui video live Charlie Brown kalian.”
“Haha…kudengar kau sibuk dua hari ini. Bolehkah aku ikut mendoakanmu?”
“Apa? Dasar Martin, dia cerita semuanya?”
Jonny tertawa sebentar.
“Tidak semua. Hanya saat kau menangis melihat video kami saat tampil di festival itu dan interview-mu dua hari ini. Dia bilang kau fan yang sedikit aneh. Hahahaha…..” kembali terdengar tawa riang yang riuh. Pasti bukan hanya Jonny.
“Apa? Katakan pada Martin aku akan menjewernya Minggu nanti. Dan tunggu, apa kau bersama yang lain?” tanyaku penasaran.
Kembali ada tawa yang riuh.
“Will’s here!” suara lain menyahut.
“dan Guy!” satu suara lagi. Astaga, mereka bertiga ada di sana semua.
“Tadi Phil juga ikut sebentar.” Kali ini suara Jonny lagi.
“Lalu di mana Martin?”
“Dia ada interview. Kau mau menunggu?”
“Tidak, tidak. Bilang saja aku akan mendaratkan puluhan jeweran kalau dia dating.”
Kembali terdengar tawa yang riuh.
“Kalau begitu, bye! And Good Luck!”
“Thanks, Jonny! Bye!”
Telepon terputus dan aku tersenyum kembali duduk di sofa. Tapi tak berapa lama kemudian, giliran ponselku menerima sebuah pesan. Dari Martin. Isinya : Aku tunggu jewerannya. Aku tertawa kali ini, namun pesannya tak kubalas. Kembali kupasang headphone dan mendengarkan Charlie Brown. Sudah malam dan aku harus tidur.
Aku menggigil di dalam sini. Padahal aku sudah memakai jaket tebal ini sejak tadi. Hujan amat deras di luar sana. Angin juga cukup lebat. Aku memandanginya dari jendela sambil sesekali meminum secangkir coklat panas. Sial, coklat ini pun tak bisa untuk sekedar mengurangi rasa dingin yang kurasakan. Aku masih menggigil. Kudengar sebuah suara beserta getaran dalam waktu yang bersamaan. Oh, ternyata ponselku. Siapa yang menelepon di tengah hujan deras begini? Pangeran tampan yang kehujanan lalu minta diberi payung? Tanpa melihat nama di layer ponsel, aku langsung mengangkatnya.
“Hey, bisakah kau bukakan pagarmu? Aku akan mampir.” Oh, tebak siapa. Ternyata Martin.
“Hujan deras begini?”
“Justru itu, hujan sangat lebat. Aku tidak mau berada di jalan saat hujan begini derasnya.”
“Okay.”
Setidaknya, pangeran tampan itu tidak minta diberi payung. Belum sempat aku menaruh ponselku kembali, suara klakson mobil sudah terdengar. Astaga, cepat sekali dia. Jadi dia sudah di depan pagar saat menelepon tadi. Secepat kilat aku meraih paying dan segera membuka pagar. Hujan masih sangat lebat, sekuat tenaga aku mencoba melawan kedinginan yang sedang aku terobos. Dari dalam Martin tersenyum, seperti biasa. Dan, Ya Tuhan, di mana kedinginan yang tadi? Hilangkah hanya karena Martin tersenyum tadi?
“Kenapa kau begitu lambat?”